Pameran Seni Grafis ‘Mockery, Seni Viagra dan Spirit Menyertainya’ Suguhkan Karya Sentuhan Libido Khusus

JAKARTA  || jerathukum.com

Menarik, di Rachel Galeri, Vastu Home bilangan Pakubuwono Jakarta Selatan pada pekan terakhir bulan Januari telah dilangsungkan pembukaan acara pameran Grafis kelompok Canda bertajuk,’Mockery, Seni Viagra dan Spirit yang Menyertainya’ yang menyuguhkan karya karya dengan sentuhan libido khusus, pada siang hari tadi, Sabtu (28/01/2023)

Beberapa karya tersebut dijejerkan di sekeliling dinding galeri lantai basement Rachel Galeri, Vastu Home bilangan Pakubuwono Jakarta Selatan. Beberapa pengunjung, baik umum dan seniman perupa pun melihat karya unik dan kreativitas pegrafis tersebut.

Kurator Mayek Prayitno katakan, Barangkali irisan seni rupa satu – satunya yang mempertahankan konvensi adalah seni grafis, tidak seperti seni lukis dan seni patung, meski setiap cabang dari seni murni menampakkan citra karakteristiknya masing – masing.

Menurutnya, bahkan bisa dibilang seni grafis merupakan salah satu cabang seni yang memiliki tradisi kuat dalam hal produksi dengan prinsip di cetak dan penggunaan media.

Semula seni grafis muncul dari kejenuhan media sehingga eksplorasi untuk merambah kematerial lain diperlukan dan tentunya penggunaan tekhnik yang lebih spesifik, misalnya lithography, etsa, mezotin, aquatin, lino cut, woodcut, serigraphy / silk screen dan stensil.

Di ISI Yogya dan ITB, tradisi teknik tersebut diatas menguat terutama dekade 1960 sampai 1990an. Karakteristik dari hasil edisi cetakan dari setiap teknik atau perpaduan diantara teknik tersebut menjadi penilaian yang penting bagi berlangsungnya eksistensi dan kompetisi seni grafis, di luar itu seni grafis tumbuh menerabas konvensi.

” Lalu, Pada fase baru ini, negosiasi penggunaan material dalam seni grafis sungguh mendapatkan keleluasaan dan lepas dari kode etik cetak – mencetak, yang dulunya sering menggunakan edisi atau menggandakan cetakan diatas kertas, dalam tradisi ini semua edisi / seri cetakan merupakan karya original,” ujarnya

Seiring berkembangnya seni rupa kontemporer, dimana konvensi dilabrak dan prinsip anything goes yang berakar pada wacana seni post modernisme diseret kemana – mana, seni grafis tumbuh dengan caranya sendiri dan differensiatif, ujar Kurator Mayek.

Pada akhirnya teknik seni grafis menjalar dan merebak dalam skala yang lebih luas, akibat adaptasi dari perkembangan teknologi yakni digital print. Implikasi dari hal tersebut prinsip cetak – mencetak digunakan dalam berbagai media, sering kali terselip dalam karya seni lukis, patung, instalasi, grafiti, mural, bricolage, mixed media dan lain – lain.

Mayek menjelaskan, bahwa Varian atau pun integrasi antar media dan kekayaan teknik seni grafis itu memenuhi fenomena seni rupa kita yang tidak lain bagian dari strategi berkarya dalam pencapaian artistik. Pada praktiknya dikerjakan oleh para perupa, pegrafis kampus atau pun otodidak.

Diketahui, di ISI Yogyakarta, seni grafis tumbuh dengan sangat baik meski di luar kampus pameran seni grafis nyaris jarang diselenggarakan, namun secara berkala kompetisi Jogja Internasional Miniprint Bienalle dan Trienal seni grafis masih berlangsung, setidaknya masa sebelum pandemi yang digagas oleh Miracle Print dan Bentara Budaya.

Melalui kompetisi ini tradisi atau konvensi seni grafis masih terjaga dengan konsistensi yang kuat, sementara di belantara seni rupa Indonesia seni grafis non konvensional berkembang cukup jauh, extended dan eksperiensial, terutama eksplorasi itu sudah diaplikasikan di dalam kampus.

” Pada hakikatnya adalah bagaimana perupa memiliki komitmen terhadap pilihan mereka dalam dunia seni rupa, seperti halnya yang ditunjukkan oleh para perupa atau pegrafis dalam pameran ini, baik pilihan penggunaan media, teknik dan gagasan,” ucap Mayek Prayitno

Spirit semacam ini dimaknai ulang oleh kelompok seni grafis Canda yang distimulasi melalui “Viagra” ( via media grafis ), mereka diantaranya ada Mahendra Pampam, Angga Sukma Permana, Putra Eko, Fikri dan Andika. Dengan terinspirasi penggunaan istilah viagra yang memiliki konotasi “obat kuat” / doping, seni grafis bagi kelompok Canda merupakan salah satu kekuatan tersendiri dari hasrat melahirkan karya.

Mengesankan bahwa seni grafis butuh dorongan dan sentuhan libido khusus dalam intensi, kontinuitas serta keberlangsungannya, penetrasi terhadap peralatan pendukung, eksekusi gaya visual dengan simbol imajinatif, seraya mengumbar keringat hingga klimaks pada kecanggihan teknik dan ide.

Via grafis, kelompok Canda mendesahkan gagasan pamerannya dengan selubung selimut “Mockery”, artinya ejekan, cemooh atau olokan. Mockery dipakai mereka sebagai representasi dari roh berkarya. Mereka membalik bagaimana ejekan negatif dibalik menjadi energi positif. Seloroh “olokan” yang mereka terima dilingkungan sekitar kampus dijadikan spirit untuk membangun sebuah atmosfer berkarya diantara anggota kelompok Canda yang berangkat dari jurusan seni murni, minat utama seni grafis ISI Yogyakarta, yang memang memiliki tradisi saling mengejek dalam pengertian guyonan atau candaan, sesuatu lelucon tidak serius tapi berfungsi untuk membangkitkan semangat kreatif.

Kebiasaan ini, jadi hal lumrah sehari – hari saat di kampus, yang senior “mengejek” ke yunior, bahkan sebaliknya sebagai bentuk keakraban dan seduluran. Menanggapi hal itu mereka menginisiasi kelompok seni grafis Canda ini. Ejekan atau saling mengolok juga berlaku dalam konteks kekaryaan, yang dalam kebiasaan mereka merupakan tradisi saling mengkritik karya. Tempaan kritik atas karya dan perilaku inilah yang membuat mereka kelak semakin matang dan “kebal” terhadap kritik dan ejekan ketika mereka sudah menjadi perupa profesional.

” Sebetulnya apa yang ingin disampaikan oleh para pegrafis ini merupakan respon dan kepekaannya terhadap pengalaman dan pandangan – pandangan mereka atas fenomena dan hidup keseharian yang terakumulasi oleh pikiran, lalu ditambatkan pada jiwanya sehingga membentuk estetika yang memiliki muatan tertentu. Kepedulian mereka pada lingkungan, diri dan hubungan sosial yang dilandasi berbagai hal membantu kita untuk membaca lebih jauh mengenai problem – problem kontemporer saat ini melalui karya – karya yang mereka tampilkan,” pungkas Mayek Prayitno.

Bisa dibuktikan oleh apa yang direpresentasikan oleh Mahendra Pampam, perupa muda yang aktif berpameran diberbagai galeri. Di pameran ini karyanya merespon simbol alamiah dengan menggunakan obyek manusia, hewan, bahkan organ tubuh. Karya ini mengetengahkan soal perjalanan hidup (journey).

Ke -Dua karya, berkaitan dengan sebuah siklus seperti waktu dan terus melingkar dan akan berulang ulang (paradoks). Tetapi memamg perjalanan siklus kehidupan manusia. Karya Genesis, dan Karya Journey, rencananya pun akan ber lanjut lagi ke depan. Demikian kata Mahendra saat menjelaskan.

Menurutnya, evolusi atau perjalanan dan perubahan hidup manusia ditentukan oleh tindakan mereka sendiri, selain dipengaruhi oleh lingkungan. Sebagian besar faktor lingkungan sangat berperan dominan dalam membentuk kepribadian dan wawasan dimasa depan, dikemudian hari hal itu mengarahkan pilihan hidup manusia.

Di karya nya yang kedua (2) berjudul “Genesis” bertepatan dengan kelahiran anak keduanya. Di momen ini merupakan bagian dari perjalanan hidupnya, dimana harapan dan cinta kasih membimbing dan menyertainya. Karyanya menggunakan media kayu hardboard cut yang diwarnai dengan akrilik dan kemudian dilumuri tinta cetak. Kedua karyanya berukuran 120 x 90 cm tahun 2022.

Berbeda, dengan Andika yang menggunakan teknik monotype atau blueprint. Dalam karyanya, ia melukiskan sebuah kuda sebagai simbol maskulinitas, dengan latar belakang gedung tua yang kokoh dan figur Raden Saleh dari abad 19, selain itu ada obyek burung yang beterbangan dan sosok figur perempuan.

Dia berbicara mengenai karakteristik dari sifat maskulin, yakni keberanian, ketegasan, pribadi yang kuat atau pun agresivitas dan kebebasan yang membedakan dengan sifat – sifat feminim, meskipun dalam jaman emansipasi sekarang ini sifat maskulin juga bisa ditemui dalam pribadi perempuan, yang menunjuk pada kemandirian orang – orang modern yang hidup di kota – kota besar sebagai wanita “karir”.

Maskulin dan feminim bukan saja perkara gender tetapi juga bagaimana ia merespon dunia yang mentautkan eksistensi dan ekspresi budaya tertentu. Kombinasi keduanya merupakan bagian dari konstruksi sosial yang disebut sebagai androgini. Menurut Andika fenomena ini adalah kecenderungan dan perubahan masyarakat kontemporer, tentang memori, spirit yang diekspresikan secara aktual, bahkan fakta aktual tersebut tidak bisa dihindari tapi dihadapi dan diadaptasi.

Dengan mengelaborasi semua pengaruh lingkungan dalam style kontemporer, kemampuan manusia bertahan hidup dalam mengadaptasi perkembangan dan respon kognitifnya mengalami perubahan yang signifikan dihadapan teknologi. Peradaban tumbuh dengan pesat. Kemajuan dari berbagai aspek hidup terpenuhi dengan mudah. Mesin, komputer dan internet menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dari relik hidup keseharian.

Eksplorasi dan penguasaan itu dirayakan, namun mereka harus membayar mahal dengan dampak yang ditimbulkannya. Itulah alegori dari karya Angga Sukma Permana yang berjudul Rupadatu, struktur kedua dari kosmologi Budhisme yang merepresentasikan wujud eksistensi manusia yang satu sisinya terikat pada problem duniawi dan bagian lainnya upaya untuk melepaskan ikatan tersebut menuju esensi hidup, yang disimbolisasikan melalui figur tafakur, duduk khusyuk, bersila dengan dua lengan tangan yang berposisi berlawanan dari dua lengan tangan memegang handphone (dunia dalam genggaman). Sementara dibawahnya terlihat unsur Kamadatunya. Karya ini menggunakan teknik harboardcut dan handcolouring diatas kanvas.

Senada dengan Putra Eko yang memakai teknik yang sama. Karyanya mengetengahkan pokok pikiran dan kegelisahan tentang budaya urban. Ia melihat dampak dari industri itu telah merusak lingkungan (Enviromental pollutan), demikian ujarnya saat diwawancarai saat di lokasi.

Pembuangan limbah yang sembarangan dan polusi udara dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan masyarakat perkotaan atau masyarakat global. Isu – isu pemanasan global akibat dari efek rumah kaca yang melelehkan kutub utara-selatan dan naiknya air laut, limbah pabrik dan bahkan nuklir Chernobyl masih terus mengemuka diberita layar kaca yang terdokumentasi dengan baik.

Sementara, disisi lainnya berbagai upaya untuk mencegah bencana global dan mendaur ulang limbah domestik terus digalakkan. Menyelamatkan Bumi dari kehancuran merupakan bagian dari iman yang jarang disadari oleh koorporasi – koorporasi besar oleh karena berbagai kepentingan. Sebagai represennya, Putra Eko menggambarkannya dengan segerombolan tekstur tembok gedung perkotaan yang saling berhimpitan begitu padat.

Sesaknya Kota disebabkan sekumpulan atau kelompok masyarakat yang terikat kontrak sosial berdasar kesepakatan antar individu dengan hubungan yang sangat kompleks oleh berbagai unsur dan anasir. Mereka bekerjasama untuk bertahan hidup dan mencari mata pencaharian. Dibalik sibuk dan padatnya aktifitas mereka, ada banyak pertanyaan eksistensial yang membuntutinya.

Fikri mempertanyakan kembali eksistensi manusia semakin kabur yang dipicu oleh perilaku mereka sendiri. Melalui pengalamannya, ia beranggapan bahwa banyak hubungan – hubungan manusia itu menimbulkan kekecewaan – kekecewaan, seolah peradaban yang tumbuh pesat sekarang ini dipenuhi berbagai hal yang tak sepenuhnya bisa dipercaya, dengan menggunakan alegori karya yang berjudul “Abang janji akan berubah”, itu menunjuk pada kesalahan dari sifat – sifat manusia. Visual karyanya tampak satir yang menggambarkan kera mencukur rambutnya sendiri, seolah ingin berubah namun masih sering menimbulkan kekecewaan. Hal manusiawi yang melekat pada manusia.

Di galeri Pameran seni grafis kelompok Canda dari Yogyakarta tersebut memamerkan sepuluh (10) buah karya seni dengan berbagai ukuran dan media, yang mengetengahkan kecenderungan seni grafis eksperimental dan perluasannya, yakni tidak menggunakan edisi dan penggunaan kertas.

Dalam hal ini hanya mencetak karya sekali, tidak digandakan, termasuk pemakaian kanvas, master cetakan yang dipamerkan dan kombinasi diantaranya. Via Grafis ini, mereka menyimpul tajuk ‘Mockery’. yang berarti cemooh atau ejekan. Dalam dunia pergaulan mereka ejekan merupakan sesuatu yang lumrah, dari candaan ini kemudian dijadikan sumber inspirasi dan semangat berkarya menyikapi problematika kehidupan sedang dirasa dan amati ke dalam sebuah bentuk visual.

( N. K )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *